MENYUSURI KEARIFAN LOKAL YANG MASIH LESTARI DI DUSUN GHULUK

Bondowoso mempunyai beragam kekayaan tidak cuma kekayaan alamnya yang melimpah dengan bentang alam amat indah yang mempu membius siapa saja yang berkunjung ke kabupaten Bondowoso sanggup berlama - lama di kota Tape.Namun Bondowoso juga kaya dengan budaya lokal masyarakat yang masih lestari terjaga sampai saat ini.

Dusun  Ghuluk salah satunya. Dusun yang masih mempertahankan tradisi leluhur hingga saat ini, Namanya Dusun Ghuluk dalam bahasa madura artinya ( aghulu' = jatuh , menggelinding - Bahasa Madura ) salah satu dusun yang terletak di desa Bajuran , Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, dari namanya Ghuluk , ya mungkin setara dengan medan untuk menuju ke lokasi dimana kita harus melewati lembah yang menjadi pemisah dengan dusun sebelah namun jalannya masih bisa dibilang relatif nyaman jika dibanding dengan akses menuju ke kampung wae rebo,  di dusun ghuluk disana kita masih bisa menyaksikan beberapa tradisi kuno yang diwariskan oleh nenek moyang kita sampai saat ini masih lestari.

Nyuteng Abhekalan



Salah satu adat istiadat yang masih dilaksanakan oleh warga dusun ghuluk adalah " Nyunteng Abhekalan " atau selamatan hari pertunangan. Memang di setiap daerah melaksanakan hajatan ketika melangsungkan acara tunangan namun ada yang berbeda disini yaitu dimenu hidangannya yaitu masih menggunakan pakem yang sudah diajarkan secara turun - temurun misalkan hidangan wajibnya nasi tumpeng dengan lauk ayam kampung, kuenya serabi, nogosari, leppet, ketupat untuk acaranya sangat simple hanya tahlil dan doa untuk kedua calon mempelai.


Nyare Dhedhina

Biasanya kalau orang jawa ataupun madura untuk melakukan suatu kegiatan mereka tidak lepas dari memilih hari baik sama dengan penduduk di dusun Ghuluk  mereka masih sangat kental dengan jaran leluhur. Biasanya untuk nyare dhedhina mereka gunakan untuk mencari hari baik mendirikan rumah, melamar , hari nikah, bahkan dalam memulai cocok tanam.


Ritual Pernikahan


Yang paling unik di dususn Ghuluk adalah upacara perkawinan Baca juga. Menang acaranya tidak seperti penduduk kota yang biasanya dilaksanan dengan acara yang bisa dibilang modern, berbeda dengan didusun Ghuluk  upacara disini dilakukan dengan kesederhanaan dan masih menggunakan adat lama, salah satu yang paling pentiing dalam acara pernikahan adalah adhudul atau membuat dodol yang merupakan simbol kesuburan, setalah itu keesokan harinya biasanya kedua calon mempelai didoakan dengan runtutan acara Nyarakal ( membaca maulid diba' )  kemudian minta sapora ( meminta maaf ) kepada jama'ah yang hadir dan setelah pernikahan usai biasanya mempelai akan dinaikkan kuda tangkas dan ditonton oleh warga sambil memberi saweran kepada kedua mempelai untuk malam harinya mempelai akan ditempatkan di kamar sambil menyantap nasi ponar  ada kepercayaan disni kalau nasi ponar bisa dihabiskan maka hajat kedua mempelai akan tercapai.





Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "MENYUSURI KEARIFAN LOKAL YANG MASIH LESTARI DI DUSUN GHULUK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel